Pelanggan Air Sumur Artetis Mulai Siap-Siap dengan Perubahan Kebijakan
Ngaliyan - Merasa pembagian air bersih di kompleks Tanjungsari tidak merata antara masyarakat di dataran tinggi dengan warga yang ada di dataran rendah, dimana air lebih banyak mengalir di daerah rendah ketimbang yang di atas, sedangkan biaya pembayarannya sama antara warga dataran tinggi dengan warga yang tinggal di dataran rendah, masyarakat mengirimkan surat rekomendasi tentang perubahan sistem distribusi air.
Mufakat warga
Hasil surat rekomendasi tersebut serta pasca Suharto membuat kepengurusan, kemudian pengurus berunding menyepakati bahwa air yang dulunya menggunakan sistem paketan senilai Rp. 20.000,- perbulan diubah dengan sistem kubik.Sebenarnya sudah dari kepengurusan dulu yang diketuai Basit, sistem ini diusulkan. Karena warga yang tempat tinggalnya di dataran tinggi merasa dirugikan dengan sistem paket. Bagi mereka sistem paket sama sekali tidak sesuai asas keadilan dan asas pemerataan. Sedang warga RT 07 RW V Tanjungsari Ngaliyan memeluk asas tersebut.“Dari kesepakatan ini, terdapat perdebatan antara warga yang setuju dengan penggunaan meteran dan tidak setuju dengan penggantian, supaya sistem paket tetap dioperasikan. Kebanyakan yang tidak setuju itu warga yang tempat tinggalnya di dataran rendah dan yang sangat setuju dengan penggantian adalah warga dari dataran tinggi”. Ungkap ketua PSAMN, Suharto.
Suharto sermi dilantik sebagai ketua Paguyuban Sumur Artetis Masjid Nurul Iman (PSAMN) periode 19 Desember 2008 sampai 19 Desember 2011, dengan surat suara sah yang mendukungnya lebih dari 50 % dari jumlah masyarakat yang mempunyai hak pilih.Anggota PSAMN merekomendasikan kepada ketua terpilih segera menyusun kepengurusan dan meningkatkan pelayanan terhadap konsumen PSAMN dengan cara menentukan tarif dasar air sesuai dengan asas keadilan, melaksanakan tugas dan pelayanan secara profesional dan transparan, merawat dan menggunakan fasilitas sumur artetis secara efektif dan efisien serta me-mecahkan permasalahan PSAMN dengan musyawarah mufakat.
Dari hasil musyawarah bersama memutuskan pengairan air menggunakan sistem meteran. Kemudian pengurus yang dibantu warga memulai pemasangan dan disepakati minggu, 8 Maret 2009 pukul 00.00 WIB kepada seluruh PSAMN RT 02, 06, 07 RW V Tanjungsari Ngaliyan dimulai perhitungan meteran dari nol.
Pembengkakan biaya
Berita ini sempat menjadi heboh warga yang sempat tidak setuju dengan kepu-tusan itu. Salah satunya Ifa Mahasiswi Fakultas Dakwah IAIN Walisongo yang tinggal di kontrakan wilayah RT 07 RW V Tanjungsari Ngaliyan.
Dia sangat terkejut ketika melihat undangan pengumuman launching mete-ran itu diterimanya. Karena biaya yang biasa dikeluarkan untuk bayar air seba-nyak Rp. 20.000,- kini tidak bisa dikira lagi. Misalnya, membayar meteran air dan pemasangan sebesar Rp.75.000,- itu baru akan memulai pemasangan. Setelah itu ditambah biaya dengan 1-10 kubik seharga Rp.500,-/kubik, 11-20 kubik seharga Rp.1000,-/kubik, dan apabila habis 21 keatas kubik harus mengeluarkan Rp.2000,-/kubiknya. Ditambah biaya perawatan sebesar Rp.7.500,-/bulannya. Belum lagi biaya kepada warga yang pinjam titik air, bia-yanya lebih mahal dari pelanggan biasa.“Dengan adanya launching ini sebe-narnya saya setuju-setuju saja, karena saya dan teman-teman nggak bakalan kekurangan air lagi dengan air yang dibatasi. Akan tetapi, saya merasa was-was sekaligus deg-degan dengan pem-biayaan yang tidak bisa kita duga dengan sistem baru seperti ini”. Ucap Ifa
Dia juga mengatakan, sudah berjalan 3 minggu pemasangan, saya melihat me-teran. Kami sudah habis 45 kubik, setelah kami hitung-hitung dengan perhitungan tadi kami habis Rp.50.000,- ke atas. Padahal kami tidak memikirkan air saja, masih mikir pajak listrik dan sampah.Selain keluhan Ifa begitu juga dengan Ibu Patmi seorang pedagang sembako dia mengatakan “bukane saya setuju atau tidak setuju karena saya belum tau habis berapa bulan ini sebab belum genap sebulan dari launching meteran tersebut. Saya ikut temen-temen warga apa yang terbaik saja. Tetapi menurut saya tarif yang ditentukan kemahalan karena saya hidup dari ekonomi sederhana”“Saya akan melihat 3 bulan kedepan, apabila tarif ini serasa memberatkan saya dan warga akan mengadakan evaluasi kembali. Semua ini tidak sulit jika kita memanage air dengan baik pasti tidak sampai membengkak”. Ucap Bu Patmi sambil duduk di kursi angkruk depan rumahnya
Demi keadilan dan pemerataan
Sumur Artetis dahulunya bergabung dengan RT 01, kemudian karena RT 07 dengan perkembangan zaman berkem-bang pula warga penduduk. Kemudian di sini dipecah dan membuat Sumur Artetis Sendiri pada tanggal 26 April 2003. Tujuan dipecah sudah jelas bahwanya ada-lah demi terciptanya keadilan masyarakat.Sambung Pak Toni wakil ketua PSAMN “usulan ini sudah lama sejak saya jadi ketua, tetapi baru terealisasikan se-karang. Sejak launching pertama hingga sekarang 50 % warga mengucapkan terima kasih kepada pengurus sehingga tidak adanya kesenjangan sosial antar warga hanya karena gara-gara air saja”Pengurus berharap warga bisa meman-faatkan air sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari kebengkakan biaya. (Rifa/NM)
Kamis, 23 April 2009
[Edisi 4] Air Mengalir, Biaya Membengkak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar