Banyak yayasan sosial yang ada di Semarang. Seperti, Yayasan Panti Wredha di Ngaliyan. Yayasan yang berdiri semenjak 15 Mei 1985 berkecimpung dalam merawat para lanjut usia (lansia) putri. Yayasan ini menaungi dua lembaga yaitu Panti Wredha dan TK Pertiwi.
Sistem kepengurusan terbagi dua, pengurus yayasan dan pengurus panti. Pengurus panti selalu intens mengurus para lansia setiap harinya. Sedangkan pengurus yayasan tidak setiap hari ada. Mereka hanya ada ketika ingin menjenguk dan ketika ada rapat di kantor yayasan. Jumlah lansia yang dirawat sejumlah 40 orang dengan 6 pengurus panti.
“Dalam menangani para lansia, para petugas dengan sabar memberikan perawatan bagi mereka. Karena mengurus lansia tidaklah mudah, mereka kembali seperti anak kecil yang kapan saja rewel,” ujar Sundari, pengurus yayasan. Perhatian para pengurus tidak hanya masalah makan tapi segala aspeknya diperhatikan. Seperti ketika ada yang sakit, petugas langsung membawanya ke Puskesmas Gondorio. Karena yayasan bekerja sama dengan puskesmas tersebut.“Akan tetapi, ketika sakit harus dirawat di sana. Inilah yang agak menyusahkan pengurus. Sebab, pengurus panti hanya sedikit. Jadi, harus cari orang untuk menunggui yang sakit,” keluh Atik, selaku penanggung jawab panti.Yayasan menerima para lansia dari beberapa latar belakang. Meski ada yang datang dengan sendirinya. Misalnya ada yang diantar petugas polisi atau dititipkan langsung dari keluarga dan dari masyarakat yang terbebani dengan keberadaan lansia yang tinggal sendiri.
Fasilitas Berkelas
Selama ini, para lansia free dalam pembiayaan hidupnya. Tapi dari pihak yayasan merasa kesulitan jikalau hanya mengandalkan donator saja. Sehingga pada 2007 yayasan merencanakan adanya pembentukan kelas. “Bagi kelas I dikenai biaya kurang lebih Rp 600.000,- perbulannya. Sedangkan untuk kelas VIP masih direncanakan dan belum dianggarkan,” terangnya. Selain perencanaannya, yayasan juga masih berfikir mengenai apa yang harus dilakukan jikalau panti terkena Tol Semarang-Batang. “Kalau panti terkena Tol, berarti lansia kalau keluar bisa langsung ke jalan,” ujar Sundari dengan penuh senyum. Para lansia melakukan kegiatan sehari-hari dengan penbinaan agama. Yang muslim sesuai dengan agamanya. Begitu pula dengan non-muslim. “ Kalau yang bisa ngaji ya mereka melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, tahlilan atau juga bersholawat. Itu semua sesuai dengan kemauannya sendiri,” tutur Atik ketika ditemui.
Refresing
Dalam pengelolaan atau perawatan para lansia masih baik-baik saja. Tidak ada masalah yang terlalu sulit dari para lansia. Ketika dirasa jenuh, para petugas mengajak berlibur kesuatu tempat. “Agar mereka dapat menikmati hal yang beda dari kehidupan di panti. Dan merekapun bergembira ketika pariwisata ataupun ada yang berkunjung untuk menjenguknya,” ungkapnya. Mereka, lanjut Atik, menganggap yang berkunjung adalah anak atau cucunya. Sehingga merasa senang ketika ada yang menengok dan memperhatikan.
Harapan
Harapan yang terlontar adalah semoga yayasan sosial ini tetap berjalan dengan baik dan tetap menerima serta merawat lansia dengan baik. “Biar bagaimanapun semua orang tidak dapat hidup sendiri tapi butuh perhatian dan bantuan orang lain,” imbuhnya. Selain itu, bagi masyarakat sekitar cobalah tingkatkan kepedulian dalam hal sosial. Terutama yang dekat dengan lingkungan kita sendiri. “Perhatian terhadap sesama lebih ditingkatkan. Coba melirik pada lingkungan sekitar baik dalam pelestarian alam ataupun lingkup sosialnya,” kata Sundari mengakhiri perbincangan siang itu. (Yani/NM)
Kamis, 23 April 2009
[Edisi 5] Lansia Perlu Perhatian
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar